Mei 15, 2008...5:36 am

Feel the taste

Lompat ke Komentar

-1 mei 2008-

it’s mayday! gosh!, untuk yang pertama kali aku larut dalam hiruk-pikuk “pesta rakyat” tersebut. ya, pesta!. pesta dalam arti sebenarnya. tumpukan orang dari berbagai wilayah, tanggerang, bekasi, dan lain-lain. tumblek-blek!. jalanan sepi, dan dimana-mana hanya ada lautan orang (di wilayah bunderan hi). berbagai macam orasi saling menyalak-nyalak, dan saya tergelak.

disana saya mencoba mencari seorang kawan lama, siapa tau nanti ketemu. iseng, saya melihat sekumpulan orang-orang media, dan aha ! saya menemukan para orang-orang berbaju khas, warna hitam gelap beserta logo diamond. ya, trans!. saya datangi mereka, dan melihat satu persatu wajahnya. tapi sayang, orang yang cari tidak ada. biasanya di acara-cara seperti ini dia selalu hadir, namun entah apakah sudah saking “lamanya” dia berkecimpung di dunia demo sehingga dia akhirnya bosan, saya tidak tau. di bandung dahulu teman saya yang satu ini bisa dibilang selalu aktif ketika ada demo. waktu dulu ada kasus tentang ultimus di bandung dia ada didalamnya.

begitupun dengan mayday-mayday beberapa tahun yang lalu.

beberapa dari proletar-proletar mulai menunjukan aksinya masing-masing. ada yang menjual teater jelanan, ada yang menjual selebaran, poster, lengkap. saya melihat lihat kesekitar, dan kesemuanya terlihat seru dimata saya. saya seperti anak kecil, yang baru melihat pertunjukan pasar malam dengan kerlap-kerlip lampu bagai bintang dan penuh mainan.

saya mulai perjalanan saya 1 mei, dengan berjalan dari halte setiabudi sampai dengan daerah disekitar daerah sabang. sepanjang perjalanan yang saya lihat hanyalah demo, demo, dan demo. untung ketika demo berlangsung diadakan acara-acara seperti pertunjukan teater jalanan, dan reog. setidaknya itu membuat saya sedikit terhibur. bayangkan apabila acara-acara itu tidak ada, dan hanya ada demo serta orasi-orasi yang ndak puguh itu ? betapa bosan dan menyebalkan bukan?.

demo setelah orde baru ini terlihat menjemukan. beda dengan demo sebelum orde baru, dan ketika menggulingkan orde baru. ya, sebagai manusia saya memang tidak ada ketika demo mei tahun lalu itu meledak. tapi sebagai manusia, rasa kemanusiaan saya hadir dan emosi saya pun ada ketika melihat demo tersebut melalui berbagai macam media. entah itu koran, televisi, ataupun radio.

ketika orde baru, memang masalah-masalah yang didemokan kompleks, pun sama dengan masa-masa yang sekarang. tapi tujuan mereka satu, “gulingkan soeharto” dan angkat presiden baru, lalu bentuk sistem kepemerintahan baru, dan “REFORMASI”. seperti itulah. rasanya dulu, ketika mendengar kata-kata reformasi seperti mendengar satu harapan baru. mencerahkan, dan memberi harapan. seiring waktu, kata-kata reformasi pun menjadi lekang.

masa yang sekarang, adalah masa-masa demo yang jemu. demo tanpa tujuan dan latar belakang yang tidak jelas. absurd. sedikit tidak ada kecocokan, maka akan menyulut suatu demo. terus dan terus seperti itu. bisa dibilang euphoria demo.

-2 – 4 mei 2008-

akhirnya saya pindah! eureka!. untuk kesekian kalinya pindah tempat tinggal lagi –kost. kali ini sedikit jauh dari kantor, dan keramaian. kembali lagi ke pasar minggu. tempat nya nyaman, masih banyak pohon-pohon hijau, dan ketika pagi menjelang saya masih bisa melihat dan merasakan kabut. senang ? oh tentu, dimana lagi ada tempat yang ketika pagi datang bisa mendengar suara burung, menghirup uap udara yang masih asri, jauh dari keramaian dan kebisingan dari jakarta, dan satu lagi : sedikit strategis, selain di daerah pasar minggu ?.

tentunya lain hal jika kamu adalah trah dari seseorang yang kaya-raya banyak harta. di jakarta ini uang adalah tuhan kecil. dan bagaimana dengan yang tidak “ber-uang” ?. tenang, pameo tentang jakarta yang menyebut : “jakarta lebih kejam daripada ibu tiri”, tidaklah 100% benar. masih ada se-per sekian persen orang-orang di jakarta yang punya mata, hati, dan pikiran yang memang “beda” diantara yang lain. abnormal diantara normal, tapi bersifat pure normal.

pindahan dengan mengusung berbagai rupa barang akhirnya selesai pada tanggal 3. berbekal satu buah carirer, dan sebuah backpack, benda-benda di kamar yang lama habis dan enyah sudah. buku-buku besar seperti DBR (dibawah bendera revolusi) masuk ke carirer yang besar. karena jika di taruh didalam backpack akan sangat berat, dan menyebabkan benda-benda yang lain tidak muat untuk dibawa.

packaging, removing, bakcpacking.

tak terasa kegiatan seperti itu sudah hampir dari tahun 2000 saya lakukan. pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu wilayah ke wilayah lain, bertemu dengan orang-orang baru, kejadian-kejadian baru, ah.. sungguh sebuah petualangan. awal kost saya adalah ketika diterima di sebuah sekolah di jakarta. semenjak itulah saya mulai terpisah dari keluarga, dan didaulat oleh waktu sebagai seorang pejalan.

8 tahun, sebuah perjalanan berpindah-pindah yang bisa dibilang cukup. memori-memori tersebut terkadang ada yang utuh tersimpan didalam album di otak. dan terkadang juga, tak jarang yang hilang secara halus tergerus oleh waktu.

berfikir untuk menetap ?. tentu, hal seperti itu sudah pernah terbesit di pikiran saya. mempunyai sebuah rumah kecil, nyaman, dan bisa kemana-mana sekena hati saya. tapi …. setelah pikiran itu melayang-layang, saya jadi seperti memiliki sebuah sangkar. mengkungkung saya untuk betah dan tidak berfikiran untuk bepergian kemana-mana. mungkin kedepannya yang harus saya persiapkan selain carirer adalah sebuah tenda dom. tidak berukuran besar, namun cukup. serta tak ketinggalan, sleeping bag, atau matras! hahaha.

-9 -11 mei 2008-

Untuk yang ke-berapa kali, mulai merasakan kembali hal-hal yang dulu hanya bisa dilihat tanpa merasa dan menjadi. ya, kalau dulu aku hanya ber-intuisi saja. meraba-raba rasa, dan merasa. palsu. laiknya sebuah karya yang penuh dengan buai-buai imaji kosong. melompong dan tidak bernyawa. seperti itulah.

malam itu jalanan seperti biasa, masih penuh dengan orang-orang, lalu lalang dari arah menuju ke tujuan masing-masing. jakarta gerimis. hujan keluar rintik-rintik genit, dan manja. aku memutuskan keluar sesegera mungkin dari kantor untuk memburu malam ini, supaya bisa keluar dan bermanja-manja dengan beberapa kawan. sekedar melepas penat.

jakarta gerimis, dan secara tak dinyana seorang teman membawakan penghangat. sebotol jack daniels, 3 botol bir, dan rokok. bah! malam panjang, pikirku. besok sabtu, dan malam ini saya menghabiskan diri bersama para bolokurowo disini. genjrang-genjreng semalam suntuk, berakhir menginap di tempat teman karena antara badan dan pikiran sudah mulai tidak sinkron lagi.

esoknya, dilanjut dengan menonton film. “no country from old men”, sebuah film tahun 2007 kemarin. sebenarnya film ini sudah ada di harddisk komputer saya. namun karena penyakit yang bernama malas, akhirnya dengan sukses film ini hanya “mengendap” di dasar bersama berjuta-juta files.

film gila! benar-benar gila!. menceritakan, menggambarkan, dan mengajarkan tentang apa itu “tua”. tua ketika kamu sudah merasakan kesemuanya, tua ketika kamu merasa bosan dan jenuh dengan segala rutinitas yang sudah kamu kumpulkan selama hidup ini, tua karena kamu sudah tidak tau dan tidak mau melakukan apa-apa, tua karena kamu sekarang ini berbatas : entah berbatas karena fisik yang sudah renta, atau berbatas dalam arti yang lain.

pemenang 2 oscar, dan saya rasa pantas untuk memenangkan oscar selama 2 kali!. pstt.. sekedar saran. baiknya, hati-hati ketika ending film ini berlangsung. perhatikan dengan seksama setiap dialog nya dengan cermat. karena inti dari film ini adalah di akhir filmnya. jangan menyesal ketika ending berlangsung, kamu menjadi gagal dan gagap mengambil apa-arti didalam film ini.

-5 mei – present-

Alat transportasi saya berubah!. hahaha.

Mulai dari 5 mei lalu, saya menjadi intim menaiki kereta-kereta jakarta. merasakan kehidupan kereta, menelan realita sekenyang-kenyangnya tentang kota yang bernama jakarta. realita diobral gratis! tinggal pungut dan ambil sekena hati.

saya mulai merasakan remah-remah tentang kehidupan kereta yang pernah kau tulis dan kau gambar di benak melalui huruf-huruf itu ril !. kereta dan kereta. dari gerbong satu loncat ke gerbong yang lain. dari pegawai berkerah putih parlente, sampai ke kelas lonte. semua ada, semua nyata.

kereta ril, kereta,..

tempat dimana waktu itu kamu melepas hasrat gairah binalmu yang menggebu-gebu bersama dengan lonte-lonte bongkaran, tanah abang. tempat dimana kamu membumi, karena pergaulan mu yang sangat tidak dinyana-nyana, betapa kamu bisa bergaul dari kelas noni-noni sampai dengan kelas pelacur sekali pun.

Tinggalkan Balasan