Maret 13, 2008...4:29 pm

Pulang kemana ?

Jump to Comments

Pikiran saya semakin melayang-layang,hanya untuk menjawab pertanyaan sesimple itu.”Pulang kemana ?”.

Makna pulang kini menjadi sangat sempit bagi seorang saya.Jujur,bukan saya yang menyempitkan makna ini.Tapi terlebih keadaan lah,mungkin.Makna pulang yang sekarang bagi saya adalah tidur.Sesederhana,dan semiskin itulah pengertiannya sekarang.Menempuh perjalanan pulang,kini adalah menjadi rutinitas jemu belaka.Perjalanan yang melulu itu-itu saja,terkesan kaku di mata saya.

Memang,saya adalah manusia malam.Dan hidup hanya di malam saja.

Ketika saya pulang,nyaris tidak ada cahaya alam yang menyertai.Hanya beberapa bintang yang malu-malu dan penerangan dari jalan yang hanya beberapa voltase tsb,selalu karib dengan jalan nya perjalanan saya menuju bilik tidur.Sesimple,sesederhana,dan sebosan itulah perjalanan pulang saya beberapa hari belakangan ini.

Mencoba beberapa metode untuk pulang pun,saya sudah berkali-kali mencobanya,berharap untuk mengurangi kebosanan untuk pulang tsb.Namun sayang,kini seluruh gaya untuk pulang sudah saya tempuh.Mulai dari jalan kaki,dari kantor sampai dengan daerah blok-m.Sampai dengan naik kendaraan muter-muter,mencari jalan tikus pun sudah.

Pulang-jakarta,dan Pulang-madiun,adalah kedua perjalanan “menuju ke” suatu tempat yang bernama peristirahatan,dengan momen dan rasa yang teramat jauh berbeda.

Jakarta adalah sebuah kota yang sangat ramai.Tapi sayang keramaian itu hanya terlihat di mata,tapi tidak dijiwa,ibarat sebuah pepatah asal-asal’an “Jakarta,rame ning mono sepi ning ati” sangatlah tepat.Ketika kamu berada di kota ini,perjalanan pulang mu selalu ramai.Suara reriuhan mobil selalu menemanimu.Suara jerit-jerit cahaya lampu trotoar jalanan selalu setia memancari jalan-jalan yang akan kamu tapak.Dan segelintiran para pelacur jalanan selalu tersenyum ke arahmu,sesekali menyapa dengan sapaan genit ala mereka.Dan itulah keramaian yang selalu kamu dapat di kota ini.

Lain dengan madiun,tempat dimana rumah saya berada.

Perjalanan di madiun,sepi.Tidak banyak cahaya lampu disana.Ada pun hanya cahaya temaram bulan,dan bintang.Pernah saya pulang jalan kaki dari stasiun sampai kerumah,dan rasanya sangat nikmat.Di setiap sudut jalan seperti ramah menyambut kedatangan saya.Kelokan jalan,tikungan,serta rambu-rambu nya mendekap erat memori saya mengulang kembali memori semasa kanak-kanak dahulu.

***

Pulang,dan secuil kenangan.

Dulu semasa masih baru tinggal terpisah dari keluarga,pulang adalah sewaktu keharusan bagi saya.Sangat wajib.Kalau bisa seminggu sekali,atau sehari sekali saya harus pulang.Tidak boleh tidak.Itu dulu waktu umur belasan taun lalu.

Bertambah umur,dan bertambah pula pemikiran tentang pulang.Ketika pas terlepas dari umur ber-belas,definisi pulang saya berubah.Pulang adalah pengecut.Pulang tanpa membawa sesuatu,hanyalah seperti pengecut yang kalah dalam suatu pertarungan.”Saya harus membawa kemenangan,ketika sampai rumah”,batin saya sombong waktu itu.

Adalah tubuh manusia,yang ketika mencapai suatu titik sakit maka ia akan bermekanisme melipatgandakan kekuatannya sendiri.Tapi tubuh bukan berarti perasaan.Mungkin tubuh bisa untuk bertindah seperti itu,tapi tidak dengan perasaan.Rasa kangen yang bertumpuk,bukan seperti sebuah hukum fisika ; semakin banyak tekanan maka volume akan bertambah.Tanpa ditambah ataupun dikurangi,ketika suatu perasaan kangen membuncah,maka ketika itulah akan terus-dan terus bertambah.Dan ini bukan perkara mengingat ataupun melupakan.

Dan kini,seiring perjalanan umur yang berkepala 2 pola pikir saya tentang pulang berubah sudah.Pulang ke rumah,adalah kondisi dimana saya ingin dan bisa.Ketika keinginan dan kebisaan itu ada,maka pulang adalah jawabannya.Tak perduli waktu,ataupun tenaga.

Lalu,pulang kemana malam ini ?

Entah,mungkin seperti biasa.Sejenak galau dan bingung,lalu mendadak saya sudah terdampar lagi ke ruangan beberapa kali persegi,yang tempat tidurnya ada 2.Ada meja,tempat menyimpan buku-buku saya.Dan lampu neon panjang dikamar,yang kalau dinyalakan selalu berisik,lalu saya pun harus keluar kamar hanya sekedar untuk membaca buku-buku saya.

Itulah “rumah” saya sekarang.

Meski didalam batin,pengucapan kata-kata rumah tersebut rasanya tidak rela untuk saya ucap.Rumah saya hanya satu,di madiun.Itu saja.Walaupun rumah itu dibeli oleh ayah dan ibu saya,tapi rumah itu adalah tempat ternyaman saya.Tempat dimana saya harus berperang melawan kedua orang tua saya,hanya untuk dibangunkan ketika pagi.Dan tempat dimana saya bebas tidur diatap nya,ketika malam.

Dan kamu tau,rasanya tidur di atap rumah itu seperti apa ?

sangat menyenangkan!.

Rumah saya sangat sederhana.Atapnya sengaja disisihkan,untuk kemudian dibangun lagi atasnya.Namun,justru atap yang “katanya” akan dibangun itu,adalah sarang main saya dulu sewaktu kecil sampai sekarang.Terkadang selagi penat,saya ada disana.Sekedar menggelar tikar,bantal,lalu tertidur dengan pemandangan keatas adalah langit yang penuh dengan bintang. :)

Tinggalkan Balasan