Mei 23, 2008
Ode buat pito
Teman bagi saya mempunyai arti yang sangat kompleks. Berkumpul dari satu komuniti, ke komuniti yang lain membuat saya mendapat kan teman yang sangat amat banyak. Bahkan saking banyaknya saya hanya mengenal rupa tanpa nama. hanya wajah. dan ya sudah, itu saja. apabila bertemu ? cukup salam saja. sesimple, dan semudah itu mengenang seseorang dan seorang teman buat saya.
Ya, saya akui beberapa dari makhluk yang bernama teman tersebut, memang ada yang melekat erat didalam otak, memori, dan hati saya. sedemikian lekatnya, sampai-sampai ketika ingatan itu datang dan saya tidak bisa menemui teman-teman saya, saya hanya termangut didalam senyap. hanya mengenang wajah-wajah mereka, dan berbagai lintas kejadian yang saya arungi bersamanya dalam waktu itu. hanya itu.
Tentunya suka dan duka bersama seorang/beberapa teman sudah saya alami banyak. sama banyaknya dengan kamu ataupun anda yang membaca tulisan ini. arti teman tidak bisa diartikan sama, antara orang yang satu dengan orang yang lain. masing-masing orang mempunyai kenangan yang pelik berbeda dengan teman-temannya.
Dulu saya pernah punya seorang karib kecil. sahabat saya. namanya Danang. kami berteman sangat akrab, sampai-sampai orang tua kami pun berkawan. sebuah memori kecil yang manis kala itu. keluarga danang dan keluarga saya adalah beda agama, mereka kristen, dan saya muslim, tapi sungguh perbedaan ini tidak menjadi sebuah jurang yang memisahkan keakraban antara keluarga saya dan keluarga danang. sama sekali tidak.
Tentang perbedaan agama ini saya punya cerita. Dulu saya sangat bandel (sampai sekarang pun masih, karena bandel itu bakat :P). ceritanya saya bolos untuk pergi sholat jum’at. sengaja, karena memang waktu itu suntuk, panas, dan malas. komplit jadi satu paket. saya lalu main ke rumah danang, dan berencana mengajak dia bermain ke kali di sekitar sawah dekat rumahnya. sampai di depan rumahnya, ternyata dia sudah di depan rumah. duduk-duduk santai, dan menyambut saya dengan senyum. belum saya melepas pertanyaan dan tegur sapa, dia sudah memulai dengan sebuah pertanyaan: “Kenapa kamu ga jum’atan ? ini kan hari jumat”. Saya nyengir, dan kemudian tetap mengajak dia untuk bermain.
Saya belum tau apa arti seorang teman waktu itu. Saya hanya tau, ada anak yang bisa saya ajak main, kapanpun, dan kemanapun. bebas. maklum, karena keluarga saya adalah keluarga yang tidak pernah menetap pada suatu daerah (dulunya, dan sekarang sudah menetap di madiun). awal saya kecil, dimulai dari kota ke kota. dari daerah sekitaran jakarta, bekasi, sampai ke surabaya, dan berakhir ke kota terakhir : madiun.
Menemui bahwa ada seorang teman yang bisa saya ajak bermain adalah salah satu keasyikan tersendiri bagi saya kala itu. maklum, karena saya akui, saya sedikit gagap dalam hal bertemu orang baru. dan hanya sedikit yang nyaman ketika saya menemui orang-orang baru disekitar saya. karena saya adalah orang yang arogan sedari kecil. dan sampai sekarang pun masih.
Danang adalah seorang anak yang simple. tidak terlalu neko-neko, dan apa adanya. polos, dan nerimo. dia hanya ibu, kakak, dan dia sendiri. ayahnya sudah meninggal. satu hal yang saya ingat waktu itu adalah perihal keinginannya pindah agama ke islam. waktu itu hari jum’at, dan ketika saya pulang bersama dia melewati langgar (mesjid kecil) dia berujar kepada saya bahwa dia ingin masuk islam, tapi bingung bagaimana cara mengutarakannya ke keluarganya.
Duh! saya sangat bingung.
Saya cuman cecunguk kecil, sholat masih sering diuber-uber sama orang tua saya, ngaji masih sering bolos, jum’atan juga kadang suka pura-pura amnesia. tapi waktu itu ada seorang teman baik, yang bingung dan ingin masuk kedalam agama saya sendiri ?, dan celakanya dia meminta pendapat saya, sebagai seorang temannya ?!.
Bah!, dan mulailah saya menjelma sebagai seorang kyai dadakan cilik yang tengil. saya bilang, ya kalau memang itu sudah pilihannya, silahkan dijalani. perkara urusan orang tua, biar saya nanti yang bilang ke orang tua saya untuk memberitau orang tua kamu. cuman begitu! dan dia manggut-manggut. pertandan mengerti atau tidak, waktu itu saya tidak tau. lalu saatnya pun tiba, dia datang ke saya, dan mengajak saya sholat. saya kaget. dan itulah pertama kali saya membuat orang masuk kedalam islam pertama kali, dan ya hanya sekali sampai detik ini.
Danang dan saya, kemana-mana ya hanya berdua. berangkat dari sekolah, pulang dari sekolah, dan selesai dari sekolah, saya selalu bersama dengan dia. kami selalu asyik didalam dunia kami. meski terkadang danang juga sering mengajak teman-temannya untuk bergabung bermain. dan kami punya banyak permainan yang ajaib!.
Pernah saya membuat satu lubang besar didepan kebun dia. saya gali, dan saya taruh kaleng susu besar di dalam lubang itu, lalu diatas lubang kaleng saya tutupi dengan plastik. didalam kaleng, saya taruh uang receh hasil sisa uang jajan selama sekolah. dan selesai itu saya tutup dengan tanah. lalu saya berujar kepada danang : Ini harta karun!. Hahahahaha. dan dia pun akhirnya mengikuti permainan tersebut, uang jajan dia, dia simpan kedalam kaleng tersebut. teman-temannya pun ikut juga, pada akhirnya ketika uang sudah terkumpul banyak, kami pesta pora.
kami pergi ke sawah di sekitar rumah danang, lalu mengambil damen (sisa hasil panen yang sudah dibuang), ranting kayu, dan fiola! sebuah gubuk pun jadi. lalu makanan-makanan tersebut kami taruh didalamnya, dan pesta kecil pun terjadi. selesai keluar dari gubuk, alamat badan menjadi gatal itu sudah pasti.
**
waktu bergulir, terus laju, dan laju
seiring irama-Nya, saya terus berputar dalam lingkaran tersebut. mungkin bukan waktu yang akan saya salahkan karena telah memutuskan lingkaran demi lingkaran setiap pertemanan saya. tapi saya sendiri lah, yang masih terlalu susah untuk dapat me-maintain jejaringan pertemanan itu sendiri. suatu saat, ketika saya kembali ke rumah, secara tidak sengaja saya iseng untuk main ke rumah danang. sudah lama saya tidak betegur sapa dan menyambangi rumahnya. mungkin ada sekitar 2-3 taun saya hilang kontak dengan dia.
motor saya akhirnya sampai pada halaman itu. halaman yang ramah di kepala dan ingatan saya. halaman yang tidak bisa saya lupakan, pun saat ini. saya melihat kembali rumah itu, ketika sudah beberapa taun lamanya saya tidak menyapa pemilik dan lingkungan di sekitarnya. tapi waktu itu aneh, rumah itu kelihatan sepi, tidak seramai biasanya. saya lalu bertanya kepada tetangga sekitar rumah itu, dan akhirnya saya baru tau, kalau danang sudah pindah. saya terus bertanya, dan terus bertanya, kemana, kapan, dan kenapa sahabat saya ini pindah, tapi sial mereka tidak tau menahu.
saya pulang, dan sebuah raga yang kosong.
seketika itu juga saya merasa ada sesuatu yang tau-tau hilang, menghenyak sebegitu saja dari saya. kenangan demi kenangan seolah-oleh sirna sepersekian detik, moksa. saya telah kehilangan seorang teman, saudara, dan sahabat kecil saya. terlalu banyak rekaman yang saya lalui bersama dia, sampai-sampai ketika saya pulang hingga kini, saya selalu melewati jalan demi jalan yang dulu saya dan sahabat saya lalui. saya sangat kehilangan.
dan saat itulah, madiun hanya seperti album foto tua, yang sesekali dibuka-tutup untuk mengingat sesuatu yang bernama sejarah.
setiap kali saya pulang, tidak ada yang saya sambangi selain rumah saya sendiri, dan rumah nenek saya. sudah itu saja. sampai-sampai saya sempat berfikir, andai itu semua tidak ada, maka nyaris ketika saya pulang ke madiun nanti, kepulangan saya hanyalah kepulangan tanpa sebuah rumah. kosong. lalu saya takut.
saya terlempar ke kota tengik ini ketika berumur sekitar 16. mau atau tak mau, saya dibesarkan dalam status sosial yang bernama masyarakat. harus bisa mensosialkan diri secepat mungkin, ditengah kebrengsekan tatanan ibukota. ibu saya, adalah wanita yang paling tau dan paling tersabar buat saya. saya selalu penakut, dari dulu hingga sekarang. dulu, saya merasa terasing, merasa dibuang, tapi ibu saya selalu bilang dan selalu meyakinkan saya, kalau saya pasti tidak akan apa-apa sendiri disini. ketika saya tanya kenapa ?, ibu saya selalu menjawab, karena dia selalu berusaha untuk berbuat baik, jadi percaya anaknya akan selalu ketemu dengan orang baik nanti. ibu saya percaya akan sebuah konsep karma, meski ketika saya bilang : “ibu percaya karma?,” jawabnya adalah tidak. aneh.
ya, muslim yang sedikit kejawen, mungkin seperti itulah keluarga saya.
kost demi kost saya terjang, berbagai macam rupa pertemanan saya telan. si-A berasal dari bengkulu, si-B berasal dari medan, si-C berasal dari sunda, dan saya lama-lama menjadi beku atas nama sosial. saya tidak pernah sebegitu cepat untuk dapat menerima seseorang yang baru saya kenal. perlu waktu. andaikan dituntut untuk cepat, yang ada saya akan pakai sejuta jurus topeng saya. meski akhirnya, saya memutuskan untuk melepas topeng, karena percuma, pakai atau tidak pakai, toh manusia pada intinya akan terlihat sifat ke-manusiaannya, sifat keasliannya, dan saya beruntung bisa mengenal dan mengetahui akan hal itu.
dari kost saya belajar apa yang namanya survival, apa yang namanya bertahan, apa yang namanya rumah. dulu, saya sangat sulit untuk diajak makan diatas meja makan bersama keluarga saya. tapi sekarang ? duh,.. saat seperti itu selalu saat nanti. bagai sebuah harta karun dalam perjalanan saya sekarang ini. rumah dan pulang, adalah sesuatu yang sangat istimewa buat saya, meski dulu-dulu kedua hal itu saya anggap adalah hal yang paling membosankan, dan paling menjemukan.
banyak sudah peristiwa yang terekam sedari saya ngekost sampai sekarang. dulu, waktu itu banjir besar di jakarta. semua jakarta barat tenggelam. saya masih kelas 2 (seingat saya). kamar saya kena banjir. bukan hanya air yang masuk kedalam, tapi berbagai jenis rupa daun dan sampah pun juga masuk, dan saya ? saya masih berada didalam kamar. duduk-duduk manis, tidur-tidur sembari mendengarkan radio, ditengah air yang membanjiri kamar saya. saya di tempat tidur, dan rasanya seperti orang yang terdampar di pulau antah-berantah. seru ? oh jelas!.
bangun tidur waktu itu adalah penjelajahan yang mengasyikan. karena ketika saya bangun, kaki saya langsung tenggelam didalam air. dan langsung, refleks saya mencari sepatu boot, dan pergi mencari makan. tempat makan langganan saya pun terkena banjir, kami makan di antara kursi-kursi yang disulap sedemikian rupa menjadi sebuah panggung, untuk nantinya bisa dinaiki sebagai tempat makan kami.
banjir terus meluap, dan akhirnya, saya memutuskan untuk segera mengungsi. mau kemana ? jelas saya bingung. saudara terdekat saya ada di tanggerang, kalaupun ada di daerah jakarta, itu ada di klender, dan bisa ditebak, saya terlalu malas untuk pergi kesana. saya bisa berdiri di atas kaki saya sendiri, dan kenyataan telah membuktikan. hanya ada beberapa kendaraan yang ada waktu itu ; sebuah truk tronton, dan truk-truk berbak terbuka. bis, dan segala jenis kendaraan lainnya, mandeg. berhenti. karena air terlalu tinggi di daerah indosiar sana.
saya naik truk, bersama seorang kawan : deni dan okta namanya. kami menaiki truk, dari jakarta sampai dengan bekasi.
tempat kost yang ketiga saya adalah tempat kost yang paling gila waktu itu. tempat kami sempat menjadi TO (target operasi) polisi, karena setiap malam selalu nyimeng, dan minum. genjrang-genjreng, dari malam, sampai ketemu malam. lingkungan mendukung, dan ketua RT aslinya pun mendukung. alih-alih berubah menjadi sok-sok galak menuturi dan memberi wejangan kepada bocah-bocah blangsak kostan, karena dia sebal, berulang kali harus berurusan dengan intel yang mewanti-wanti untuk menasehati kami-kami ini.
waktu itu malam, dan didalam kamar saya ada sekitar 4-6 orang. saya sedang asyik setengah tidur, dan yang lain main kartu, sembari ngerokok, dan minum berbotol-botol whisky-entah-merek-apa. mendadak pintu kamar saya digedor. saya kaget. begitu pun yang lain. pintu dibuka, dan tau-tau sekitar 3-4 orang teman saya menyerobot masuk kedalam kamar. sepatu tanpa dilepas, dan dengan nafas tersengal-sengal. saya tanya, kenapa ?. dia jawab, ada kerusuhan. rupanya waktu itu sedang ada “perang” antar kampung.
didalam kamar kami diam. saling merapat bersama kebisuan masing-masing.
4 jam, baru akhirnya kebisuan itu cair, dan kami saling bertukar cerita tentang apa dan bagaimana perang itu dimulai. ternyata hanya hal sepele, warga kampung sebelah lewat kampung kami. motor dia diparkir, dan secara tidak sengaja motor nya jatuh. si-warga kampung sebelah ini, mengira motornya ditendang, padahal tidak.
bodoh, dan sangat sangat bodoh.
besoknya, saya tanya warga kanan-kiri. ternyata, kejadian kemarin itu mirip perang ala mafia hongkong, klewang dan samuran beradu-adu. darah dimana-mana, dan memang saya sendiri melihat masih ada bercak darah waktu itu di jalanan.
saya meninggalkan lingkungan itu, untuk meloncat ke lingkungan yang lainnya. masih di jakarta barat, tapi atmosfer beda. atmosfer yang sekarang sangat “anak kuliah-an” banget. anak gaul. bukan suara gitar, dan obrolan meracau yang akrab di telinga saya, tapi suara game, dan suara gedubrak-gedabruk lari-larian kesana kemari yang saya dengar sekarang. mirip seperti anak kecil, yang sedang bermain bola di dalam rumahnya sendiri. seperti itulah.
game, game, dan game
saya muak, dan memilih untuk tidur. melepas penat saya, setelah letih bekerja menjadi kacung komputer di sebuah hotel, di bilangan tebet sana. ya, saya sudah bekerja!. saat precil-precil gaya itu menikmati masa-masa bergaulnya, saya sudah bersepatukan fantovel ala bapak dosen, dengan tas slempang kerja. mereka bingung, dikira saya ikutan MLM. saya nyengir, dan tetap cuek.
pertemanan saya disini sedikit. sangat sedikit. bisa di hitung dengan jari, siapa yang saya kenal dan saya yang maui untuk kenal. saya jarang masuk kuliah. selain alasan yang bernama malas, pelajaran kuliah terlalu monoton dan itu-itu melulu. alih-alih dosen nya bagus dalam hal mengajar, suasana kelas selalu tidak mendukung, dan akhirnya ? pecahlah konsentrasi.
salah seorang yang saya kenal, dan sekarang masih akrab, saya temui di kampus saya ini. berlatar belakang seorang anak pejabat BUMN. keluarganya adalah petinggi dulu. wajar, apabila mobil sekelas evo3 bisa dia modif seenak jidat, jadi ber-jok hanya dua, dan mesin yang sudah rombak sana-sini berklas mobil balap.
ada saya, selalu ada dia dan ada teman-teman yang lain.
waktu itu liburan. saya pulang ke madiun. handphone saya berdering, dan ketika saya angkat, ternyata sahabat yang anak pejabat ini. saya bilang kenapa ?, karena tumben, udah lebih 5 bulan tidak ada kabar sama sekali. lalu dia cerita panjang lebar, bahwa dia dipenjara. kasus drugs. telfon ditutup, tanpa sempat saya tanya kenapa dan bagaimana ?.
ya sudah, mau gimana lagi ?.
akhirnya, suatu saat saya bertemu dia lagi. dia sudah lepas dari penjara. ya, apalah arti uang berbelas-belas juta untuk bisa melepas dia ?. itu mungkin hal kecil. lalu dia cerita panjang lebar, hal-ihwal kenapa dia bisa tertangkap. saya mendengarkan, terus dan terus. ternyata, sudah dari kecil dia mengkonsumsi drugs. berawal dari sd kenal ganja, sampai smp, lalu berubah dari pil, shabu, dan akhirnya putau.
dan saya secara ajaib menjadi tukang pemberi konseling buat dia.
syukur, setelah bertahun-tahun saya dekat, akhirnya dia sembuh total. memang, untuk hal obat sembuh, tapi dalam hal yang lain tidak. ini wajar. ketika orang sudah terlalu akut dalam hal tercandu drugs, biasanya ada hal yang tidak bisa disembuhkan. bisa tabiat sex nya yang semakin menggila, atau tabiat minum nya yang makin parah.
susah untuk membuat menjadi bersih, perlu waktu yang tidak instan.
begitulah, terlalu banyak orang yang keluar dan masuk didalam lintasan saya. terkadang yang saya rasa hampa, sesuka dan seenak jidat orang mau ngapain, silahkan. asal selama dia tidak ganggu, saya fine-fine aja. apatis ? ya, bisa dibilang seperti itu.

