Mei 23, 2008

Ode buat pito

Teman bagi saya mempunyai arti yang sangat kompleks. Berkumpul dari satu komuniti, ke komuniti yang lain membuat saya mendapat kan teman yang sangat amat banyak. Bahkan saking banyaknya saya hanya mengenal rupa tanpa nama. hanya wajah. dan ya sudah, itu saja. apabila bertemu ? cukup salam saja. sesimple, dan semudah itu mengenang seseorang dan seorang teman buat saya.

Ya, saya akui beberapa dari makhluk yang bernama teman tersebut, memang ada yang melekat erat didalam otak, memori, dan hati saya. sedemikian lekatnya, sampai-sampai ketika ingatan itu datang dan saya tidak bisa menemui teman-teman saya, saya hanya termangut didalam senyap. hanya mengenang wajah-wajah mereka, dan berbagai lintas kejadian yang saya arungi bersamanya dalam waktu itu. hanya itu.

Tentunya suka dan duka bersama seorang/beberapa teman sudah saya alami banyak. sama banyaknya dengan kamu ataupun anda yang membaca tulisan ini. arti teman tidak bisa diartikan sama, antara orang yang satu dengan orang yang lain. masing-masing orang mempunyai kenangan yang pelik berbeda dengan teman-temannya.

Dulu saya pernah punya seorang karib kecil. sahabat saya. namanya Danang. kami berteman sangat akrab, sampai-sampai orang tua kami pun berkawan. sebuah memori kecil yang manis kala itu. keluarga danang dan keluarga saya adalah beda agama, mereka kristen, dan saya muslim, tapi sungguh perbedaan ini tidak menjadi sebuah jurang yang memisahkan keakraban antara keluarga saya dan keluarga danang. sama sekali tidak.

Tentang perbedaan agama ini saya punya cerita. Dulu saya sangat bandel (sampai sekarang pun masih, karena bandel itu bakat :P). ceritanya saya bolos untuk pergi sholat jum’at. sengaja, karena memang waktu itu suntuk, panas, dan malas. komplit jadi satu paket. saya lalu main ke rumah danang, dan berencana mengajak dia bermain ke kali di sekitar sawah dekat rumahnya. sampai di depan rumahnya, ternyata dia sudah di depan rumah. duduk-duduk santai, dan menyambut saya dengan senyum. belum saya melepas pertanyaan dan tegur sapa, dia sudah memulai dengan sebuah pertanyaan: “Kenapa kamu ga jum’atan ? ini kan hari jumat”. Saya nyengir, dan kemudian tetap mengajak dia untuk bermain.

Saya belum tau apa arti seorang teman waktu itu. Saya hanya tau, ada anak yang bisa saya ajak main, kapanpun, dan kemanapun. bebas. maklum, karena keluarga saya adalah keluarga yang tidak pernah menetap pada suatu daerah (dulunya, dan sekarang sudah menetap di madiun). awal saya kecil, dimulai dari kota ke kota. dari daerah sekitaran jakarta, bekasi, sampai ke surabaya, dan berakhir ke kota terakhir : madiun.

Menemui bahwa ada seorang teman yang bisa saya ajak bermain adalah salah satu keasyikan tersendiri bagi saya kala itu. maklum, karena saya akui, saya sedikit gagap dalam hal bertemu orang baru. dan hanya sedikit yang nyaman ketika saya menemui orang-orang baru disekitar saya. karena saya adalah orang yang arogan sedari kecil. dan sampai sekarang pun masih.

Danang adalah seorang anak yang simple. tidak terlalu neko-neko, dan apa adanya. polos, dan nerimo. dia hanya ibu, kakak, dan dia sendiri. ayahnya sudah meninggal. satu hal yang saya ingat waktu itu adalah perihal keinginannya pindah agama ke islam. waktu itu hari jum’at, dan ketika saya pulang bersama dia melewati langgar (mesjid kecil) dia berujar kepada saya bahwa dia ingin masuk islam, tapi bingung bagaimana cara mengutarakannya ke keluarganya.

Duh! saya sangat bingung.

Saya cuman cecunguk kecil, sholat masih sering diuber-uber sama orang tua saya, ngaji masih sering bolos, jum’atan juga kadang suka pura-pura amnesia. tapi waktu itu ada seorang teman baik, yang bingung dan ingin masuk kedalam agama saya sendiri ?, dan celakanya dia meminta pendapat saya, sebagai seorang temannya ?!.

Bah!, dan mulailah saya menjelma sebagai seorang kyai dadakan cilik yang tengil. saya bilang, ya kalau memang itu sudah pilihannya, silahkan dijalani. perkara urusan orang tua, biar saya nanti yang bilang ke orang tua saya untuk memberitau orang tua kamu. cuman begitu! dan dia manggut-manggut. pertandan mengerti atau tidak, waktu itu saya tidak tau. lalu saatnya pun tiba, dia datang ke saya, dan mengajak saya sholat. saya kaget. dan itulah pertama kali saya membuat orang masuk kedalam islam pertama kali, dan ya hanya sekali sampai detik ini.

Danang dan saya, kemana-mana ya hanya berdua. berangkat dari sekolah, pulang dari sekolah, dan selesai dari sekolah, saya selalu bersama dengan dia. kami selalu asyik didalam dunia kami. meski terkadang danang juga sering mengajak teman-temannya untuk bergabung bermain. dan kami punya banyak permainan yang ajaib!.

Pernah saya membuat satu lubang besar didepan kebun dia. saya gali, dan saya taruh kaleng susu besar di dalam lubang itu, lalu diatas lubang kaleng saya tutupi dengan plastik. didalam kaleng, saya taruh uang receh hasil sisa uang jajan selama sekolah. dan selesai itu saya tutup dengan tanah. lalu saya berujar kepada danang : Ini harta karun!. Hahahahaha. dan dia pun akhirnya mengikuti permainan tersebut, uang jajan dia, dia simpan kedalam kaleng tersebut. teman-temannya pun ikut juga, pada akhirnya ketika uang sudah terkumpul banyak, kami pesta pora.

kami pergi ke sawah di sekitar rumah danang, lalu mengambil damen (sisa hasil panen yang sudah dibuang), ranting kayu, dan fiola! sebuah gubuk pun jadi. lalu makanan-makanan tersebut kami taruh didalamnya, dan pesta kecil pun terjadi. selesai keluar dari gubuk, alamat badan menjadi gatal itu sudah pasti.

**

waktu bergulir, terus laju, dan laju

seiring irama-Nya, saya terus berputar dalam lingkaran tersebut. mungkin bukan waktu yang akan saya salahkan karena telah memutuskan lingkaran demi lingkaran setiap pertemanan saya. tapi saya sendiri lah, yang masih terlalu susah untuk dapat me-maintain jejaringan pertemanan itu sendiri. suatu saat, ketika saya kembali ke rumah, secara tidak sengaja saya iseng untuk main ke rumah danang. sudah lama saya tidak betegur sapa dan menyambangi rumahnya. mungkin ada sekitar 2-3 taun saya hilang kontak dengan dia.

motor saya akhirnya sampai pada halaman itu. halaman yang ramah di kepala dan ingatan saya. halaman yang tidak bisa saya lupakan, pun saat ini. saya melihat kembali rumah itu, ketika sudah beberapa taun lamanya saya tidak menyapa pemilik dan lingkungan di sekitarnya. tapi waktu itu aneh, rumah itu kelihatan sepi, tidak seramai biasanya. saya lalu bertanya kepada tetangga sekitar rumah itu, dan akhirnya saya baru tau, kalau danang sudah pindah. saya terus bertanya, dan terus bertanya, kemana, kapan, dan kenapa sahabat saya ini pindah, tapi sial mereka tidak tau menahu.

saya pulang, dan sebuah raga yang kosong.

seketika itu juga saya merasa ada sesuatu yang tau-tau hilang, menghenyak sebegitu saja dari saya. kenangan demi kenangan seolah-oleh sirna sepersekian detik, moksa. saya telah kehilangan seorang teman, saudara, dan sahabat kecil saya. terlalu banyak rekaman yang saya lalui bersama dia, sampai-sampai ketika saya pulang hingga kini, saya selalu melewati jalan demi jalan yang dulu saya dan sahabat saya lalui. saya sangat kehilangan.

dan saat itulah, madiun hanya seperti album foto tua, yang sesekali dibuka-tutup untuk mengingat sesuatu yang bernama sejarah.

setiap kali saya pulang, tidak ada yang saya sambangi selain rumah saya sendiri, dan rumah nenek saya. sudah itu saja. sampai-sampai saya sempat berfikir, andai itu semua tidak ada, maka nyaris ketika saya pulang ke madiun nanti, kepulangan saya hanyalah kepulangan tanpa sebuah rumah. kosong. lalu saya takut.

saya terlempar ke kota tengik ini ketika berumur sekitar 16. mau atau tak mau, saya dibesarkan dalam status sosial yang bernama masyarakat. harus bisa mensosialkan diri secepat mungkin, ditengah kebrengsekan tatanan ibukota. ibu saya, adalah wanita yang paling tau dan paling tersabar buat saya. saya selalu penakut, dari dulu hingga sekarang. dulu, saya merasa terasing, merasa dibuang, tapi ibu saya selalu bilang dan selalu meyakinkan saya, kalau saya pasti tidak akan apa-apa sendiri disini. ketika saya tanya kenapa ?, ibu saya selalu menjawab, karena dia selalu berusaha untuk berbuat baik, jadi percaya anaknya akan selalu ketemu dengan orang baik nanti. ibu saya percaya akan sebuah konsep karma, meski ketika saya bilang : “ibu percaya karma?,” jawabnya adalah tidak. aneh.

ya, muslim yang sedikit kejawen, mungkin seperti itulah keluarga saya.

kost demi kost saya terjang, berbagai macam rupa pertemanan saya telan. si-A berasal dari bengkulu, si-B berasal dari medan, si-C berasal dari sunda, dan saya lama-lama menjadi beku atas nama sosial. saya tidak pernah sebegitu cepat untuk dapat menerima seseorang yang baru saya kenal. perlu waktu. andaikan dituntut untuk cepat, yang ada saya akan pakai sejuta jurus topeng saya. meski akhirnya, saya memutuskan untuk melepas topeng, karena percuma, pakai atau tidak pakai, toh manusia pada intinya akan terlihat sifat ke-manusiaannya, sifat keasliannya, dan saya beruntung bisa mengenal dan mengetahui akan hal itu.

dari kost saya belajar apa yang namanya survival, apa yang namanya bertahan, apa yang namanya rumah. dulu, saya sangat sulit untuk diajak makan diatas meja makan bersama keluarga saya. tapi sekarang ? duh,.. saat seperti itu selalu saat nanti. bagai sebuah harta karun dalam perjalanan saya sekarang ini. rumah dan pulang, adalah sesuatu yang sangat istimewa buat saya, meski dulu-dulu kedua hal itu saya anggap adalah hal yang paling membosankan, dan paling menjemukan.

banyak sudah peristiwa yang terekam sedari saya ngekost sampai sekarang. dulu, waktu itu banjir besar di jakarta. semua jakarta barat tenggelam. saya masih kelas 2 (seingat saya). kamar saya kena banjir. bukan hanya air yang masuk kedalam, tapi berbagai jenis rupa daun dan sampah pun juga masuk, dan saya ? saya masih berada didalam kamar. duduk-duduk manis, tidur-tidur sembari mendengarkan radio, ditengah air yang membanjiri kamar saya. saya di tempat tidur, dan rasanya seperti orang yang terdampar di pulau antah-berantah. seru ? oh jelas!.

bangun tidur waktu itu adalah penjelajahan yang mengasyikan. karena ketika saya bangun, kaki saya langsung tenggelam didalam air. dan langsung, refleks saya mencari sepatu boot, dan pergi mencari makan. tempat makan langganan saya pun terkena banjir, kami makan di antara kursi-kursi yang disulap sedemikian rupa menjadi sebuah panggung, untuk nantinya bisa dinaiki sebagai tempat makan kami.

banjir terus meluap, dan akhirnya, saya memutuskan untuk segera mengungsi. mau kemana ? jelas saya bingung. saudara terdekat saya ada di tanggerang, kalaupun ada di daerah jakarta, itu ada di klender, dan bisa ditebak, saya terlalu malas untuk pergi kesana. saya bisa berdiri di atas kaki saya sendiri, dan kenyataan telah membuktikan. hanya ada beberapa kendaraan yang ada waktu itu ; sebuah truk tronton, dan truk-truk berbak terbuka. bis, dan segala jenis kendaraan lainnya, mandeg. berhenti. karena air terlalu tinggi di daerah indosiar sana.

saya naik truk, bersama seorang kawan : deni dan okta namanya. kami menaiki truk, dari jakarta sampai dengan bekasi.

tempat kost yang ketiga saya adalah tempat kost yang paling gila waktu itu. tempat kami sempat menjadi TO (target operasi) polisi, karena setiap malam selalu nyimeng, dan minum. genjrang-genjreng, dari malam, sampai ketemu malam. lingkungan mendukung, dan ketua RT aslinya pun mendukung. alih-alih berubah menjadi sok-sok galak menuturi dan memberi wejangan kepada bocah-bocah blangsak kostan, karena dia sebal, berulang kali harus berurusan dengan intel yang mewanti-wanti untuk menasehati kami-kami ini.

waktu itu malam, dan didalam kamar saya ada sekitar 4-6 orang. saya sedang asyik setengah tidur, dan yang lain main kartu, sembari ngerokok, dan minum berbotol-botol whisky-entah-merek-apa. mendadak pintu kamar saya digedor. saya kaget. begitu pun yang lain. pintu dibuka, dan tau-tau sekitar 3-4 orang teman saya menyerobot masuk kedalam kamar. sepatu tanpa dilepas, dan dengan nafas tersengal-sengal. saya tanya, kenapa ?. dia jawab, ada kerusuhan. rupanya waktu itu sedang ada “perang” antar kampung.

didalam kamar kami diam. saling merapat bersama kebisuan masing-masing.

4 jam, baru akhirnya kebisuan itu cair, dan kami saling bertukar cerita tentang apa dan bagaimana perang itu dimulai. ternyata hanya hal sepele, warga kampung sebelah lewat kampung kami. motor dia diparkir, dan secara tidak sengaja motor nya jatuh. si-warga kampung sebelah ini, mengira motornya ditendang, padahal tidak.

bodoh, dan sangat sangat bodoh.

besoknya, saya tanya warga kanan-kiri. ternyata, kejadian kemarin itu mirip perang ala mafia hongkong, klewang dan samuran beradu-adu. darah dimana-mana, dan memang saya sendiri melihat masih ada bercak darah waktu itu di jalanan.

saya meninggalkan lingkungan itu, untuk meloncat ke lingkungan yang lainnya. masih di jakarta barat, tapi atmosfer beda. atmosfer yang sekarang sangat “anak kuliah-an” banget. anak gaul. bukan suara gitar, dan obrolan meracau yang akrab di telinga saya, tapi suara game, dan suara gedubrak-gedabruk lari-larian kesana kemari yang saya dengar sekarang. mirip seperti anak kecil, yang sedang bermain bola di dalam rumahnya sendiri. seperti itulah.

game, game, dan game

saya muak, dan memilih untuk tidur. melepas penat saya, setelah letih bekerja menjadi kacung komputer di sebuah hotel, di bilangan tebet sana. ya, saya sudah bekerja!. saat precil-precil gaya itu menikmati masa-masa bergaulnya, saya sudah bersepatukan fantovel ala bapak dosen, dengan tas slempang kerja. mereka bingung, dikira saya ikutan MLM. saya nyengir, dan tetap cuek.

pertemanan saya disini sedikit. sangat sedikit. bisa di hitung dengan jari, siapa yang saya kenal dan saya yang maui untuk kenal. saya jarang masuk kuliah. selain alasan yang bernama malas, pelajaran kuliah terlalu monoton dan itu-itu melulu. alih-alih dosen nya bagus dalam hal mengajar, suasana kelas selalu tidak mendukung, dan akhirnya ? pecahlah konsentrasi.

salah seorang yang saya kenal, dan sekarang masih akrab, saya temui di kampus saya ini. berlatar belakang seorang anak pejabat BUMN. keluarganya adalah petinggi dulu. wajar, apabila mobil sekelas evo3 bisa dia modif seenak jidat, jadi ber-jok hanya dua, dan mesin yang sudah rombak sana-sini berklas mobil balap.

ada saya, selalu ada dia dan ada teman-teman yang lain.

waktu itu liburan. saya pulang ke madiun. handphone saya berdering, dan ketika saya angkat, ternyata sahabat yang anak pejabat ini. saya bilang kenapa ?, karena tumben, udah lebih 5 bulan tidak ada kabar sama sekali. lalu dia cerita panjang lebar, bahwa dia dipenjara. kasus drugs. telfon ditutup, tanpa sempat saya tanya kenapa dan bagaimana ?.

ya sudah, mau gimana lagi ?.

akhirnya, suatu saat saya bertemu dia lagi. dia sudah lepas dari penjara. ya, apalah arti uang berbelas-belas juta untuk bisa melepas dia ?. itu mungkin hal kecil. lalu dia cerita panjang lebar, hal-ihwal kenapa dia bisa tertangkap. saya mendengarkan, terus dan terus. ternyata, sudah dari kecil dia mengkonsumsi drugs. berawal dari sd kenal ganja, sampai smp, lalu berubah dari pil, shabu, dan akhirnya putau.

dan saya secara ajaib menjadi tukang pemberi konseling buat dia.

syukur, setelah bertahun-tahun saya dekat, akhirnya dia sembuh total. memang, untuk hal obat sembuh, tapi dalam hal yang lain tidak. ini wajar. ketika orang sudah terlalu akut dalam hal tercandu drugs, biasanya ada hal yang tidak bisa disembuhkan. bisa tabiat sex nya yang semakin menggila, atau tabiat minum nya yang makin parah.

susah untuk membuat menjadi bersih, perlu waktu yang tidak instan.

begitulah, terlalu banyak orang yang keluar dan masuk didalam lintasan saya. terkadang yang saya rasa hampa, sesuka dan seenak jidat orang mau ngapain, silahkan. asal selama dia tidak ganggu, saya fine-fine aja. apatis ? ya, bisa dibilang seperti itu.

Mei 18, 2008

Futari wa onaji janai kedo

Aku mabuk

dalam lintasan waktu terpuruk

dengan gelas bernama waktu

lalu aku muntah tanpa irama, tak menentu

Aku mabuk

mengela nafas, mengingat-Mu satu demi satu

dalam diam

dalam gelas-gelas alkohol berbagai warna

aku mabuk.

sungguh..

Dan mengingat-Mu menjadi sebegitu asyik, saat kepala berputar. terus dan terus.

We skipped a light fandango,
Turned cartwheels ‘cross the floor.
I was feeling kind of seasick,
But the crowd called out for more.
The room was humming harder,
As the ceiling flew away.
When we called out for another drink,
The waiter brought a tray.

And so it was that later,
As the miller told his tale,
That her face at first just ghostly,
Turned a whiter shade of pale.

She said there is no reason,
And the truth is plain to see
That I wandered through my playing cards,
And would not let her be
One of sixteen vestal virgins
Who were leaving for the coast.
And although my eyes were open,
They might just as well have been closed.

And so it was later,
As the miller told his tale,
That her face at first just ghostly,
Turned a whiter shade of pale…

Mei 15, 2008

Feel the taste

-1 mei 2008-

it’s mayday! gosh!, untuk yang pertama kali aku larut dalam hiruk-pikuk “pesta rakyat” tersebut. ya, pesta!. pesta dalam arti sebenarnya. tumpukan orang dari berbagai wilayah, tanggerang, bekasi, dan lain-lain. tumblek-blek!. jalanan sepi, dan dimana-mana hanya ada lautan orang (di wilayah bunderan hi). berbagai macam orasi saling menyalak-nyalak, dan saya tergelak.

disana saya mencoba mencari seorang kawan lama, siapa tau nanti ketemu. iseng, saya melihat sekumpulan orang-orang media, dan aha ! saya menemukan para orang-orang berbaju khas, warna hitam gelap beserta logo diamond. ya, trans!. saya datangi mereka, dan melihat satu persatu wajahnya. tapi sayang, orang yang cari tidak ada. biasanya di acara-cara seperti ini dia selalu hadir, namun entah apakah sudah saking “lamanya” dia berkecimpung di dunia demo sehingga dia akhirnya bosan, saya tidak tau. di bandung dahulu teman saya yang satu ini bisa dibilang selalu aktif ketika ada demo. waktu dulu ada kasus tentang ultimus di bandung dia ada didalamnya.

begitupun dengan mayday-mayday beberapa tahun yang lalu.

beberapa dari proletar-proletar mulai menunjukan aksinya masing-masing. ada yang menjual teater jelanan, ada yang menjual selebaran, poster, lengkap. saya melihat lihat kesekitar, dan kesemuanya terlihat seru dimata saya. saya seperti anak kecil, yang baru melihat pertunjukan pasar malam dengan kerlap-kerlip lampu bagai bintang dan penuh mainan.

saya mulai perjalanan saya 1 mei, dengan berjalan dari halte setiabudi sampai dengan daerah disekitar daerah sabang. sepanjang perjalanan yang saya lihat hanyalah demo, demo, dan demo. untung ketika demo berlangsung diadakan acara-acara seperti pertunjukan teater jalanan, dan reog. setidaknya itu membuat saya sedikit terhibur. bayangkan apabila acara-acara itu tidak ada, dan hanya ada demo serta orasi-orasi yang ndak puguh itu ? betapa bosan dan menyebalkan bukan?.

demo setelah orde baru ini terlihat menjemukan. beda dengan demo sebelum orde baru, dan ketika menggulingkan orde baru. ya, sebagai manusia saya memang tidak ada ketika demo mei tahun lalu itu meledak. tapi sebagai manusia, rasa kemanusiaan saya hadir dan emosi saya pun ada ketika melihat demo tersebut melalui berbagai macam media. entah itu koran, televisi, ataupun radio.

ketika orde baru, memang masalah-masalah yang didemokan kompleks, pun sama dengan masa-masa yang sekarang. tapi tujuan mereka satu, “gulingkan soeharto” dan angkat presiden baru, lalu bentuk sistem kepemerintahan baru, dan “REFORMASI”. seperti itulah. rasanya dulu, ketika mendengar kata-kata reformasi seperti mendengar satu harapan baru. mencerahkan, dan memberi harapan. seiring waktu, kata-kata reformasi pun menjadi lekang.

masa yang sekarang, adalah masa-masa demo yang jemu. demo tanpa tujuan dan latar belakang yang tidak jelas. absurd. sedikit tidak ada kecocokan, maka akan menyulut suatu demo. terus dan terus seperti itu. bisa dibilang euphoria demo.

-2 - 4 mei 2008-

akhirnya saya pindah! eureka!. untuk kesekian kalinya pindah tempat tinggal lagi –kost. kali ini sedikit jauh dari kantor, dan keramaian. kembali lagi ke pasar minggu. tempat nya nyaman, masih banyak pohon-pohon hijau, dan ketika pagi menjelang saya masih bisa melihat dan merasakan kabut. senang ? oh tentu, dimana lagi ada tempat yang ketika pagi datang bisa mendengar suara burung, menghirup uap udara yang masih asri, jauh dari keramaian dan kebisingan dari jakarta, dan satu lagi : sedikit strategis, selain di daerah pasar minggu ?.

tentunya lain hal jika kamu adalah trah dari seseorang yang kaya-raya banyak harta. di jakarta ini uang adalah tuhan kecil. dan bagaimana dengan yang tidak “ber-uang” ?. tenang, pameo tentang jakarta yang menyebut : “jakarta lebih kejam daripada ibu tiri”, tidaklah 100% benar. masih ada se-per sekian persen orang-orang di jakarta yang punya mata, hati, dan pikiran yang memang “beda” diantara yang lain. abnormal diantara normal, tapi bersifat pure normal.

pindahan dengan mengusung berbagai rupa barang akhirnya selesai pada tanggal 3. berbekal satu buah carirer, dan sebuah backpack, benda-benda di kamar yang lama habis dan enyah sudah. buku-buku besar seperti DBR (dibawah bendera revolusi) masuk ke carirer yang besar. karena jika di taruh didalam backpack akan sangat berat, dan menyebabkan benda-benda yang lain tidak muat untuk dibawa.

packaging, removing, bakcpacking.

tak terasa kegiatan seperti itu sudah hampir dari tahun 2000 saya lakukan. pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu wilayah ke wilayah lain, bertemu dengan orang-orang baru, kejadian-kejadian baru, ah.. sungguh sebuah petualangan. awal kost saya adalah ketika diterima di sebuah sekolah di jakarta. semenjak itulah saya mulai terpisah dari keluarga, dan didaulat oleh waktu sebagai seorang pejalan.

8 tahun, sebuah perjalanan berpindah-pindah yang bisa dibilang cukup. memori-memori tersebut terkadang ada yang utuh tersimpan didalam album di otak. dan terkadang juga, tak jarang yang hilang secara halus tergerus oleh waktu.

berfikir untuk menetap ?. tentu, hal seperti itu sudah pernah terbesit di pikiran saya. mempunyai sebuah rumah kecil, nyaman, dan bisa kemana-mana sekena hati saya. tapi …. setelah pikiran itu melayang-layang, saya jadi seperti memiliki sebuah sangkar. mengkungkung saya untuk betah dan tidak berfikiran untuk bepergian kemana-mana. mungkin kedepannya yang harus saya persiapkan selain carirer adalah sebuah tenda dom. tidak berukuran besar, namun cukup. serta tak ketinggalan, sleeping bag, atau matras! hahaha.

-9 -11 mei 2008-

Untuk yang ke-berapa kali, mulai merasakan kembali hal-hal yang dulu hanya bisa dilihat tanpa merasa dan menjadi. ya, kalau dulu aku hanya ber-intuisi saja. meraba-raba rasa, dan merasa. palsu. laiknya sebuah karya yang penuh dengan buai-buai imaji kosong. melompong dan tidak bernyawa. seperti itulah.

malam itu jalanan seperti biasa, masih penuh dengan orang-orang, lalu lalang dari arah menuju ke tujuan masing-masing. jakarta gerimis. hujan keluar rintik-rintik genit, dan manja. aku memutuskan keluar sesegera mungkin dari kantor untuk memburu malam ini, supaya bisa keluar dan bermanja-manja dengan beberapa kawan. sekedar melepas penat.

jakarta gerimis, dan secara tak dinyana seorang teman membawakan penghangat. sebotol jack daniels, 3 botol bir, dan rokok. bah! malam panjang, pikirku. besok sabtu, dan malam ini saya menghabiskan diri bersama para bolokurowo disini. genjrang-genjreng semalam suntuk, berakhir menginap di tempat teman karena antara badan dan pikiran sudah mulai tidak sinkron lagi.

esoknya, dilanjut dengan menonton film. “no country from old men”, sebuah film tahun 2007 kemarin. sebenarnya film ini sudah ada di harddisk komputer saya. namun karena penyakit yang bernama malas, akhirnya dengan sukses film ini hanya “mengendap” di dasar bersama berjuta-juta files.

film gila! benar-benar gila!. menceritakan, menggambarkan, dan mengajarkan tentang apa itu “tua”. tua ketika kamu sudah merasakan kesemuanya, tua ketika kamu merasa bosan dan jenuh dengan segala rutinitas yang sudah kamu kumpulkan selama hidup ini, tua karena kamu sudah tidak tau dan tidak mau melakukan apa-apa, tua karena kamu sekarang ini berbatas : entah berbatas karena fisik yang sudah renta, atau berbatas dalam arti yang lain.

pemenang 2 oscar, dan saya rasa pantas untuk memenangkan oscar selama 2 kali!. pstt.. sekedar saran. baiknya, hati-hati ketika ending film ini berlangsung. perhatikan dengan seksama setiap dialog nya dengan cermat. karena inti dari film ini adalah di akhir filmnya. jangan menyesal ketika ending berlangsung, kamu menjadi gagal dan gagap mengambil apa-arti didalam film ini.

-5 mei - present-

Alat transportasi saya berubah!. hahaha.

Mulai dari 5 mei lalu, saya menjadi intim menaiki kereta-kereta jakarta. merasakan kehidupan kereta, menelan realita sekenyang-kenyangnya tentang kota yang bernama jakarta. realita diobral gratis! tinggal pungut dan ambil sekena hati.

saya mulai merasakan remah-remah tentang kehidupan kereta yang pernah kau tulis dan kau gambar di benak melalui huruf-huruf itu ril !. kereta dan kereta. dari gerbong satu loncat ke gerbong yang lain. dari pegawai berkerah putih parlente, sampai ke kelas lonte. semua ada, semua nyata.

kereta ril, kereta,..

tempat dimana waktu itu kamu melepas hasrat gairah binalmu yang menggebu-gebu bersama dengan lonte-lonte bongkaran, tanah abang. tempat dimana kamu membumi, karena pergaulan mu yang sangat tidak dinyana-nyana, betapa kamu bisa bergaul dari kelas noni-noni sampai dengan kelas pelacur sekali pun.

Mei 13, 2008

Pulang

Mendadak aku ingin pulang.

entah, pulang dalam menuju perjalanan, atau pulang memberhentikan perjalanan.

“orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati ditempat tidur bung!”

yayaya. sejenak umpatan dari si asu yang kini kerja di stasiun tv sebagai kameramen itu menjadi tergiang-ngiang kembali lagi.

April 16, 2008

Sepotong ingatan dari masa lalu

Disebuah persimpangan waktu, saya bertemu dengan seorang perempuan. Kami hanya berjalan selama beberapa bulan, setelah akhirnya berpisah sampai akhir ini.

Suatu saat, ia menginginkan untuk diajak ke sebuah (pe)kuburan. Saya kaget waktu itu. Saya fikir dia hanya bercanda. Sekedar merilekskan pikiran, dan obrolan santai. Tapi ternyata tidak, kali ini dia serius. “Gue pengen nyari kuburan yud, yang ada mesjidnya”, kata dia. Saya diam, dan hal yang pertama terpikir adalah kuburan eyang saya. Karena kebetulan, didalam komplesk pekuburan tersebut berseberangan dengan sebuah langgar (mushola). Tapi itu di kampung, bukan di tengah hutan beton sekelas jakarta ini.

Entah, saya tidak tau apa yang sedang ia pikirkan kala itu. Tapi dari sekelumit kata-katanya ada suatu luka yang enggan ia buka.

Waktu itu –saya dan si perempuan tersebut– iseng jalan keluar. Saya ajak dia untuk mampir sejenak kesebuah tempat persinggahan saya kalau saya lagi ingin menjadi pengecut di dunia saya, dan dunia disekitar saya. Tempat yang teduh, tempat manusia untuk mengadu. Mesjid.

Terletak di jalur antara kantor, dan kostan saya. Dan tidak terlalu jauh untuk bisa pergi ke tempat ini. Mesjid yang khas, baik bangunan, tata letak, dan aura. Saya selalu nyaman, dan betah untuk berjam-jam disini. Meski disana hanya sekedar untuk merokok,dan membeli sebotol es teh saja.

Beberapa minggu lalu saya kesana lagi. Dan saya kaget karena ditempat itu ternyata ada kuburannya.

Ya nduk, kita pernah kesana dahulu. Ke tempat yang kamu mau : sebuah mesjid dengan pekuburan. Dan dengan orang-orang baik yang telah dikuburkan di makam itu. Aku telah mengajak mu kesana (tanpa disengaja).

Riding on this know-how
Never been here before
Peculiarly entrusted
Possibly that’s all
Is history recorded?
Does someone have a tape?
Surely, I’m no pioneer
Constellations stay the same

Just a little bit of danger
When intriguingly
Our little secret
Trusts that you trust me
‘Cause no one will ever know
That this was happening
So tell me why you listen
When nobody’s talking

What is there to know?
All this is what it is
You and me alone
Sheer simplicity

What is there to know?
All this is what it is
You and me alone
Sheer simplicity

What is there to know?
All this is what it is
You and me alone
Sheer simplicity

(Kings Of Convenience - Know-How)

April 12, 2008

Didalam gudang sejarah

11 April, 2008

Untuk yang kedua kali, saya terdampar di tempat itu lagi. Sebuah tempat penyimpanan literatur-literatur, buku-buku, dan kumpulan tulisan-tulisan kuno. Kembali ke tempat tersebut rasanya menyenangkan. Waktu terasa berhenti, sesat. Dan ruh saya pun, serasa dilempar kedalam sejarah-sejarah masa lalu. Waktu berhenti, dan mundur secara cepat.

Agenda saya untuk kemarin itu, hanyalah untuk menziarahi 2 tempat saja. Yakni Jln Veteran –Tempat perpustakaan tersebut– Dan TIM. Di TIM ada kenduri cinta, pimpinan dari budayawan kondang : cak nun itu. Tapi saya sekarang ini sudah malas untuk menonton acara tersebut. Sudah basi, dan terlalu monoton buat saya. Yang dibahas selalu yang ituitu saja, selalu mengeluh tentang indonesia yang bla bla, tentang kepemimpinan yang bla bla, tapi minim dengan suatu tindakan yang real. Menjemukan.

Perpustakaan itu adalah milik seorang budayawan, Taufik rahzen. Saya selalu mentakzimi sepak-terjang beliau dalam berbagai hal, baik itu seni, budaya, dan humanisme beliau yang tinggi. Mendengar cerita-cerita orang tentang sejarah dirinya, membuat bulu kuduk saya berdiri ngeri. Ngeri, sekaligus terpesona. Betapa manusia seperti dia itu ternyata masih ada di bumi ini, dan di jakarta gilanya !.

Tentang Taufik Rahzen,

Anak-anak veteran disana memanggil beliau dengan sebuah panggilan kesayangan sekaligus kehormatan, cukup menyingkat inisialnya saja. TR. Unik bagi saya.

TR adalah sebuah saksi hidup dari indonesia, tentang sebuah seni perang teluk di irak. Bersama dengan 2 orang dari indonesia (Salah satu yang saya ingat adalah adik dari andi malarangeng, yakni Rizal Mallarangeng) Mereka ke irak untuk rela dijadikan “Human shield”. Perisai manusia. Gila. Mungkin pengalaman dari dia yang menarik untuk saya, salah satunya adalah ketika sebuah cruise missile mendarat tepat di sebelah kanan kamp dia. Hahaha. Dan untungnya, waktu itu dia selamat.

Mendengarkan cerita-cerita dari beberapa orang yang mengenal baik dengan TR, sangat menarik. Bagai sebuah dongeng dengan cerita-cerita tentang sebuah petualangan layaknya novel-novel seperti Tom Sawyer, Lima Sekawan. Ah, sungguh mengasyikan.

Syahdan, TR ini dulu pernah sesumbar. Apabila nanti ia selamat dari perang teluk kelak, ia ingin pulang melalui jalur darat. Gilanya, jalur darat yang ia maui itu adalah dengan jalan kaki. Ya !, jalan kaki, dari irak ke indonesia. Rute yang ia tempuh melalui india, lalu indonesia. Entah berapa daerah dan negara yang sudah ia tempuh dengan berjalan, saya kurang mengetahuinya. Konon butuh 2 tahun, untuk melakukan perjalanan tersebut.

TR, terlahir di sumbawa.

Di masa kecilnya dulu buku adalah sesuatu yang sangat sekali berharga, dan harus melalui suatu proses perjuangan dulu untuk bisa mendapatkan dan membacanya. Ia harus berjalan jauh, untuk bisa menebus sebuah buku saja. Kelak, inilah yang membuatnya sangat mencintai buku, Dan saking cintanya, sekarang ini TR sudah mengkoleksi ber-ton2 buku yang tersebar mulai dari jogja-jakarta-bandung, dan kota-kota lainnya yang belum saya ketahui.

Dan bagi saya, buku memang sesuatu yang sangat berharga. Saya bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan sebuah buku yang kita cintai itu. Waktu itu kostan tempat saya tinggal kebanjiran. Saya lupa, bahwa buku kesayangan saya, saya simpan di laci bawah rak meja. Saya sedang tidak ada dikostan waktu itu, dan kamar saya kunci. Air sudah masuk kedalam kamar, dan dengan mulus, satu laci kerendam air.

Sejak itulah, saya mulai berhati-hati sekali dalam hal penyimpanan buku.

12 April, 2008

Sekarang ini jam 11. Tepat 3 jam pantat saya telah tertempel di kursi kantor. Semalam baru sempat tertidur jam 4, itupun karena kecapekan. Sungguh, saya capek seharian itu. Kemarin, bersama dengan para anggota geng veteran itu, kami angkat2 buku perpustakaan. Kalau dihitung secara total, mungkin ada sekitar 2 ton lebih. Rencananya oleh pak TR, buku tersebut akan di pindahkan ke perpustakaan beliau yang ada di jogja. Mungkin untuk bahan riset sejarah lagi.

Hari ini baru saja kelar menyelesaikan kerjaan kantor,  seperti biasa menghadapi client besar (lagi) di hari libur : coca-cola, dan essar.  Duh, sial banget hari ini. Yah seperti biasa, troubleshooting aplikasi proxy mereka yang lagi ngadat. Belum selesai satu, yang lainnya nambah lagi. Selang beberapa menit, ada email dari pihak ritz calton bali, tentang mail server kali ini.

Sial, kenapa di hari libur seperti ini banyak trouble yah ?

April 7, 2008

Agama

Agama itu obat, atau candu ?

Maret 30, 2008

Menggelar senja

Jakarta, dan sekarang jam 5 tepat.

Dibelakang jendelajendela kantor, senja mulai menyapa.Memanggil punggung ku untuk berbalik, dan menghadap melihat kecantikannya.Lalu aku menulis mu lagi.Menggambarkan segala bentuk penantian dan perburuan.Tentang bagaimana mengakhiri perburuan itu sendiri, aku lupa.

Kepala sedikit penat, badan masih terasa pegal.Maklum, aku baru bangun tidur 2 jam yang lalu.Setelah dua harian malam penuh, aku melewatkannya dijalanan.Seperti biasa.Berkumpul bersama teman-teman, ngobrol ngalur ngidul dan kali ini, si pakdhe kampret itu membawa satu hasil karya tulisnya yang mampir di national geographic bulan.. errr.. bulan opo dhe ? aku lali.hahaha.

Jalanan malam di seputaran hi lalu penuh, dan tak seperti biasanya yang sunyi,senyap,dan hanya riuh oleh beberapa segilintiran orang saja.Biasanya, hanya beberapa orang pemabuk, pengamen yang kecapek’an lalu istirahat tidur ngglethak di sembarang tempat, beberapa pelacur kelas kambing yang wira-wiri nyari korban.Pemandangan kontras yang menarik.Disatu sisi, dibelakang itu ada Gedung megah , di depan ada patung air mancur hi yang konon biaya pembangunan nya menelan satuan M bukan Rp lagi.Di sisi lain, gembel-gembel dan orang papa masih banyak dan bergelentaran seperti ikan asin yang dijemur.Dan itu lah warna-warni pembangunan negri ini.

Banyak orang salaman, lalu saya menjadi lupa : dengan siapa tadi saya kenalan ?.Terlalu banyak objek malam itu.Saya hanya mengingat orang-orang yang memang sudah saya rekam dan ingin saya rekam.Dan jika ada yang belum terekam, butuh berhari-hari untuk bisa merekamnya.Karena daya ingat saya yang lemah.

Lalu pelan-pelan objek itu datang mengetuk otak saya, untuk dibukakan pintu.Merekam dan mengingat.

Si anu temennya si ani.

Si itu wartawan di situ

si dan si , dan si , dan si ..

Terus dan terus

Seperti seluloid ,berjalan di roda film, lalu terekam.Begitulah prosesnya.

Setengah jam setelah jam 5

Senja masih ada.

Namun warna kesumba itu pelan-pelan berubah, menggerayangi untuk mendekati malam.Menggeser perputaran waktu.Saya masih terpaku.Dihadapan layar kotak.Di depan gelas yang berisi air putih dingin , dan dihadapan piranti-piranti berbasis ip.Segalanya disini berbasis ip : Telphone IP (VOIP), Printer IP , Segala yang saya lihat selalu IP , Angka , Numerik , Sandi , dan password.

Saya eneg.

Ingin rasaya mencabut pantat ini loncat , seperti kursi pelontar pada pesawat-pesawat.Tapi ,diri ini sudah terlalu manja, dan udah kadung termanjakan dengan hal eneg yang seperti tadi itu.

Blah!

42 menit setelah jam 5

Mari menggelar senja.

Maret 24, 2008

Sesuatu yang bernama neverland

Aku menemukannya,tempat itu.

Dan sesungguhnya,kamu pun pernah aku ajak kesana,Lalu,ketika aku melihat mu bermain,wajah mu berubah seketika.Bukan wajah seorang wanita yang kesepian,tapi wajah anak perempuan yang riang.

 So come with me, where dreams are born, and time is never planned. Just think of happy things, and your heart will fly on wings, forever, in Never Never Land!

Peter pan quote.

Nona manis,mau kah kamu bermain dengan ku lagi ? bercanda ria dibawah senja ?.

Maret 22, 2008

Soal sesuatu yang bernama senja

Srengenge berwarna merah kesumba itu adalah senja.Satu waktu dimana aku selalu menunggu,terus menunggu dan malam menjadi pengakhir dalam penungguanku itu.

Aku,selalu menunggu saat itu.Kala matahari mulai meredupkan warnanya sejenak,menggantinya menjadi warna kesumba.Warna senja.Tapi terkadang,didalam penantian dan perburuan hari-hari senjaku,tidak selalu mulus.Selalu ada saja yang menghalanginnya.Entah itu kerjaan,ajakan teman,dan berbagai rutinitas harian lainnya.

Dalam senja,selalu ada kehangatan.Selalu ada kenangan.Maka wajarlah,bila beberapa seniman selalu tertunduk manja didalam kaki-kaki senja.Selalu merasa berada didalam pelukan sang-Ibu.Dan Alm Chrisye,berhasilkan meng-kandangkan secuil keindahan senja-Nya,didalam salah satu lagu beliau : “Kala surya tenggelam”.

Tentang senja,bagi sebagian orang adalah saat untuk pulang.Bertemu dengan keluarga,teman,terkasih,atau menuju ke rumah.Tempat perisitirahatan.Tempat untuk merebahkan badan,setelah sehari penuh bertempur dengan matahari.

Bicara tentang senja,seorang kawan saya pun,dalam perjalanannya menemukan sebuah warung di pinggiran jogja sana.Warung Senja,nama warungnya.Penjaganya adalah seorang bapak-bapak.Penjaga kamar mayat,di rumah sakit (saya lupa namanya apa).Dan uniknya,warung ini hanya buka ketika senja saja.Artinya,dipagi hari warung tutup.

Senja adalah sebuah pertarungan,pertarungan menerima kenyataan.Bahwa,waktu telah bergeser telah berganti,dari yang tadinya penuh sinar matahari lalu berubah dengan sinar bulan yang meredup-redup,dengan kerlip bintang,temannya.

Senja jugalah,yang menjadi inspirasi nama sebuah kereta.”Senja utama”,sebuah kereta jurusan jakarta-jogja,yang berangkat setiap harinya untuk mengantarkan ber-jumlah-jumlah manusia,tiap harinya ke jogja.Iya,jogja.Jogjakarta,tempat dimana waktu melambat.Tempat dimana setiap hari adalah liburan.Tempat dimana ketika satu,dua,tiga,orang berkumpul di warung angkringan sego kucing lalu mendadak bisa menciptakan sebuah penerbitan buku.Kota tempat,dimana idealis saling beradu.

Dan di kota ini : jakarta,senja terindah terlihat di pusat kota.Disebuah taman,minim dengan fasilitas tong sampah,sehingga ketika kita singgah disana,harus terpaksa sabar berjalan berjauh-jauh kilometer hanya sekedar untuk membuang sampah.

Taman itu,adalah tempat kesukaan saya membunuh waktu.Ditemani sang-senja,dalam pertempurannya berganti dengan sang-malam.Bersama beberapa buku-buku yang belum/tak sempat dibaca.Duduk di bangku taman,melihati beberapa keluarga beserta anak-anaknya,yang tengah bermain layangan di pelataran.Mendengar sorak-sorai,gempita,dari para penjual-penjual kopi jalanan.Mendengar beberapa cerita dari mereka,tentang bagaimana susahnya menjual kopi di taman tersebut –karena mereka harus kucing-kucing’an dengan trantib setempat–sambil menarik hembusan rokok.

Kesemuanya itu adalah indah.

Santana pun,dalam beberapa video klip nya,selalu yang menjadi objek nya adalah senja! seperti pada video klip nya,ketika bekerja sama dengan chad kroeger dalam lagu yang berjudul “Into The Night”.Bob marley pun sempat menjadikan senja sebagai objek background video klip nya.

Dan senja,adalah saksi bisu dari sebuah sejarah negara.Saksi kematian dari 2 tokoh proklamator ,Soekarno-Hatta.Lalu maafkan saya bung,karna tadi sore sempat melupakan kematian kalian berdua.